:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2413495/original/016620200_1542797307-WhatsApp_Image_2018-11-21_at_5.10.21_PM.jpeg)
Hal senada diungkapkan Plt Deputi Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, Ni Wayan Giri. Ia menyatakan wisata kuliner di Indonesia menempati porsi yang sangat besar.
"Minimal 30 persen pengeluaran wisatawan mancanegara adalah untuk makanan dan minuman. Kalau devisa bisa mencapai Rp 20 triliun, 30 persennya berarti spending untuk makanan dan minuman," ujarnya.
Untuk mendukung perkembangan industri kuliner Indonesia itu, Kementerian Pariwisata menerapkan tiga top strategy. Ketiga hal itu terdiri dari menetapkan makanan nasional yang bisa mewakili kuliner Indonesia, menetapkan tiga destinasi Nusantara sebagai destinasi wisata kuliner unggulan, dan menggandeng 100 restoran diaspora di seluruh dunia.
"Semuanya berkolaborasi dalam skema yang kami sebut ABG Caem. A-nya akademisi, B-nya bisnis, G-nya government, C-nya community, dan M-nya media. Semua saling berperan penting untuk mengembangkan wisata kuliner di Indonesia," katanya.
SIAL Interfood 2018 diikuti hampir 1.000 peserta dari 35 negara. Tak hanya Indonesia, terdapat pula stand asal negara-negara sahabat, seperti Tiongkok, Korea, Turki, dan Jepang, yang menawarkan beragam produk olahan hingga bumbu masak.
Di pameran itu terdapat sejumlah promo menggiurkan dan sederet lomba kuliner yang diikuti para chef muda. Salah satu yang menarik perhatian adalah stand makanan Korea yang menawarkan camilan khas, yakni toppokki dan oden.
Saksikan video pilihan berikut ini:
Nusantara punya kekayaan kuliner yang luar biasa. Tapi, mengapa masakan Indonesia kalah tenar dengan Thailand misalnya?
Bagikan Berita Ini
0 Response to "SIAL Interfood 2018 Resmi Dibuka, Saatnya Asia Tenggara Jadi Acuan Kuliner Dunia"
Post a Comment