Search

Cerita Akhir Pekan: Masa Depan Teater Koma

Liputan6.com, Jakarta - Dunia teater tetap tumbuh di Indonesia, meski penuh perjuangan. Tak hanya apresiasi yang kurang dari masyarakat, perhatian pemerintah pada komunitas-komunitas teater pun terbilang minim.

"Saya nggak berani bicara perkembangan teater di Indonesia. Saya hanya bisa bicara kondisi dunia teater di Jakarta. Karena untuk mendatangkan penonton saja, perlu kerja keras," kata pimpinan produksi Teater Koma, Ratna Riantiarno, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis sore, 21 Maret 2019.

Selain penonton, lanjut Ratna, kerja keras lain adalah soal tiket. Untuk menjual tiket dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu pun bukan hal mudah.

"Di daerah malah tiket untuk menonton teater dijual Rp 10 ribu, itu pun susah. Mereka tertarik menonton pada teater-teater yang sudah punya nama," ungkap istri pimpinan Teater Koma, Nano Riantiarno.

Di Jakarta, ada Teater Koma yang terus menjaga dan memupuk penonton agar bisa menonton. Para penonton Teater Koma, misalnya, orang-orangnya yang sudah biasa. Itu pun bukan hal mudah agar mereka bisa menonton Teater Koma lagi.

"Alasannya karena mereka sudah menonton, ada juga karena jaraknya jauh karena sudah pindah rumah. Jadi, persaingannya semakin gila, karena ada YouTube, televisi. Kehadiran televisi membuat orang makin mudah untuk mengganti chanel yang mereka inginkan," jelas Ratna yang juga menyebutkan perlu ada sponsor.

"Sponsor itu bisa dari pemerintah dan pihak lain yang peduli terhadap dunia teater," sambung Ratna.

Melihat perkembangan yang ada, Ratna secara tegas mengatakan tak bisa orang mengandalkan hidup dari teater. Baginya, mengelola teater bukan kerja, tapi untuk memperkaya batin dalam diri pemainnya.

"Saya sendiri sempat bekerja di perusahaan, sedangkan Mas Nano bekerja sebagai pemimpin redaksi di sebuah media. Dengan kondisi itu, pasang iklan di koran atau di televisi itu nggak mungkin," ujar Ratna Riantiarno.

Let's block ads! (Why?)



Bagikan Berita Ini

0 Response to "Cerita Akhir Pekan: Masa Depan Teater Koma"

Post a Comment

Powered by Blogger.